Saat mau berbelanja, terkadang menjadi dilema bagi orang tua. Mau mengajak, atau tidak. Kalau tidak diajak, kasihan kalau hanya ditinggal di rumah sementara kita asyik belanja. Kalau diajak, khawatir si kecil di sana minta macam-macam, yang kalau tidak dituruti ngamuk dan akhirnya acara belanja jadi kacau, lalu harus bagaimana?
Manfaat anak ikut belanja
Sebelum memutuskan apakah akan mengajak anak atau tidak saat berbelanja, silahkan simak dulu keuntungan yang didapat anak kalau ikut berbelanja bersama kita, antara lain:
- Menambah wawasan
Belanja di manapun: di supermarket, di pasar tradisional, di toko furniture, pasar hewan, dll, akan memberikan tambahan informasi kepada anak. Semakin beragam variasi tempat belanja yang pernah dikunjungi akan semakin kaya juga pengalaman anak. Apalagi kalau sambil melihat-lihat orang tua memancing anak berpikir, misalnya “Kok bisa seperti ya dhik? Kira-kira bagaimana ya cara membuatnya?”
- Membangun kemampuan matematis
Dalam kegiatan belanja ada proses tawar menawar, transaksi antara penjual dan pembeli, serta batasan berapa rupiah yang bisa dibelanjakan. Ini bagus dalam membangun kemampuan matematis anak. Selain itu anak juga melihat contoh nyata pentingnya kemampuan hitung dalam kehidupan sehari-hari.
- Membangun kemampuan literasi
Di toko/pasar kita bisa lihat benda dengan merk yang beragam. Anak bisa kita minta menyebutkan simbol apa itu.
- Membangun hubungan sosial
Berbelanja adalah saat kita bertemu dengan orang banyak, dan memungkinkan adanya interaksi dengan orang yang tidak kita kenal sebelumnya (penjual, penjaga toko, kasir, tukang parkir, dll). Anak akan belajar dari apa yang dilakukan orang tuanya. Selain itu anak juga mendapat peluang berinteraksi dengan anak lain yang ditemuinya saat itu.
Hal-hal yang sering dikhawatirkan orang tua
Beberapa hal yang membuat orang tua enggan mengajak anak, adalah karena ada kekhawatiran terhadap hal-hal negatif, antara lain:
- Anak minta macam-macam, sehingga anggaran membengkak.
- Anak hilang, lari-lari atau lepas dari pengawasan orang tua.
- Anak merengek meminta sesuatu.
- Anak ngambek atau ngamuk.
Antisipasi yang dapat dilakukan
Pastikan keamanan dan kenyamanan anak
Pastikan anak selalu berada dalam pengawasan kita. Kalau perlu anak digandeng, terutama jika kita hanya berdua dengan anak. Jika pergi dengan pasangan, bisa bergantian mengawasi sementara yang satu konsentrasi dengan barang yang mau dibeli. Anak juga perlu diberi pemahaman untuk kemanan dirinya sendiri misalnya tidak jauh-jauh dari ayah-ibu, kalau sempat terpisah apa yang harus dilakukan.
Membuat kesepakatan dengan anak
Kesepakatan bisa mencakup batasan apa yang bisa dibeli anak. Bahkan anak yang lebih besar bisa kita beri “jatah” berapa yang bisa ia belanjakan. Konsekuensinya, jika anak meminta sesuatu yang diluar kesepakatan atau melebihi “jatah” kita harus konsisten, meskipun anak menangis atau ngambek tetap tidak kita berikan.
Apapun yang terjadi, hindari mempermalukan anak di depan umum.
Konsisten dengan kesepakatan kadang membuat anak bereaksi yang membuat kita emosi atau malu karena diperhatikan banyak orang. Terkadang ini memancing orang tua untuk memarahi, menghardik atau mengancam anak di muka umum. Akibatnya anak merasa malu dan semakin tidak kooperatif. Lebih baik jika orang tua mengajak anak duduk sampai tenang.
Melibatkan anak
Dengan melibatkan anak dalam “memburu” benda yang sudah ada dalam daftar belanja kita, anak menjadi terfokus dengan kegiatan belanja. Ini mengurangi resiko anak berkeliaran sendiri atau sibuk dengan “daftar belanjaan “nya sendiri. Sejak awal kondisikan anak untuk menjadi satu tim dengan kita.
Selamat berbelanja!!
Oleh Hasanah Safriyani_Koordinator Divisi Training
Harian Jogja, 26 April 2026
