Mengenal anak dengan gangguan selective mutism

 

Ketika Anak Ingin Bicara, tetapi Sulit Mengungkapkannya

PENELITI DI ECCD-RC JOGJA

Oleh Monika Aprianna

Orangtua tentu merasa khawatir ketika anaknya menunjukkan perilaku yang berbeda antara di sekolah dan di rumah. Di rumah anak terlihat lancar berbicara, tetapi di sekolah hanya diam saja. Kondisi yang terjadi pada anak pemalu ekstrim ini disebut dengan gangguan selective mutism.

Sari, seorang siswa Taman Kanak-kanak (TK) dikenal guru sebagai seorang yang sangat pemalu. Sari tidak mau berbicara dengan guru dan teman-temannya di sekolah. Sari hanya diam. Peristiwa ini sudah terjadi lebih dari 1 tahun sejak Sari masuk di kelas TK kecil, di sekolah tersebut.

Ketika diberi pertanyaan pun Sari seringkali diam, atau kadangkala menjawab satu, dua kata, meski membutuhkan waktu yang lama. Sikap tersebut sangat berbeda saat Sari berada di rumah. Sari justru terlihat cerewet dan banyak bicara.

Kasus yang dialami Sari, barangkali juga dialami oleh putra putri kita di rumah. Gejala ini terjadi pada anak-anak dengan gangguan khusus selective mutism.

Tak hanya itu, anak-anak dengan gangguan selective mutism juga sering diam ketika diajak berbicara dengan orang asing, orang dewasa atau orang yang belum akrab dengannya.

Ada juga yang sering menghindari situasi keramaian atau tempat-tempat yang banyak orangnya.

Di sekolah, ketika menginginkan sesuatu, anak menggunakan bahasa non verbal seperti mengangguk, menggelengkan kepala, menempelkan badan atau menarik-narik baju.

Beberapa karakteristik spesifik gangguan selective mutism adalah, anak yang berbicara lancar di suatu situasi, tetapi tidak berbicara secara tetap di situasi yang lain. Anak model ini biasanya mau bicara di rumah, tetapi tidak berbicara di sekolah.

Beberapa anak mungkin akan membisu pada beberapa kondisi antara isin saat pelajaran berlangsung atau selama waktu istirahat.

Selain itu, terdapat kemungkinan anak menolak berbicara dengan guru, pada sebagian besar teman sekelas, kepada guru dan teman, atau pada siapapun di sekolah.

Interaksi sosial dan prestasi akademik anak terganggu, Anak dengan kondisi pemalu ekstrim seperti in sulit untuk bergabung dengan teman-temannya dan sering menyendiri. Anak sering diam ketika diberi pertanyaan atau diajak berbicara.

Jika terjadi di tingkat sekolah dasar, pada pelajaran yang membutuhkan banyak ketrampilan berbicara, seperti menyanyi, pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, anak ini seringkali mengalami kesulitan sehingga berakhir dengan mendapat nilai kurang.

Anak tidak mau berbicara lebih dari 1 bulan dan tidak terbatas pada bulan pertama sekolah. Umumnya anak yang baru masuk sekolah membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri, sehingga wajar jika belum berani berbicara. Namun jika lebih dari 1 bulan bahkan sampai bertahun-tahun anak masih tetap diam di sekolah, maka perlu segera dilakukan penanganan khusus.

Anak membisu bukan karena anak tidak memahami apa yang disampaikan oleh orang yang mengajaknya berbicara atau tidak nyaman dengan bahasa yang digunakan. Anak tidak mau berbicara bukan di sebabkan karena gangguan bicara/faal/ kecacatan yang berkaitan dengan organ komunikasi. Anak memiliki perkembangan bicara sesuai dengan tahap perkembangan anak seusianya.

Yang perlu dilakukan orangtua adalah dapat melatih anak untuk lebih banyak berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain, mulai dari anggota keluarga yang paling dekat dan akrab dengan anak atau tetangga dekat.

Orangtua dapat melibatkan anak pada situasi di mana ada orang lain selain orang tuanya dan belajar untuk berinteraksi dengan orang lain, misalnya makan di restoran, mengunjungi tempat bermain, berbelanja dan lain-lain.

Orangtua dapat mengundang dan melibatkan teman sebaya untuk anak datang ke rumah. Anak dapat belajar berkomunikasi dengan nyaman mulai dari situasi rumah kemudian di situasi yang lain seperti luar rumah.

Tak hanya orangtua, guru juga harus terlibat. Guru dapat melakukan pendekatan secara individual pada anak. Jika suasana yang ramai membuat anak menjadi malu, maka guru dapat mengajak anak untuk berbicara ketika tidak ada teman-teman yang lain, misalnya saat pulang sekolah sebelum dijemput oleh orangtuanya atau saat waktu istirahat.

Jika anak sudah nyaman berbicara dengan guru, maka guru dapat memulai untuk mengajak anak bicara ketika ada teman-temannya sehingga anak dapat merasa nyaman dan terbiasa berbicara di antara banyak orang.

Guru juga dapat memberikan reward atau pujian jika anak terlihat menunjukkan peningkatan, misalnya sudah mau bicara dengan guru walaupun dengan suara yang pelan.

Memaksa anak berbicara ketika anak belum siap, merupakan tindakan yang sia-sia dan kurang bijaksana. Dibutuhkan kesabaran dan waktu untuk menanganinya. Jika berbagai tindakan di atas sudah dilaksanakan, tetapi anak tidak menunjukkan kemajuan, maka perli dirujuk ke profesional, seperti psikolog.

 

Harian Jogja, 21 Februari 2006

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *