PEMANTIK YANG BAHAGIA

(Sebuah refleksi atas proses pendampingan SEMARAK 2026)

Pada bulan Januari 2026, ECCD RC menyelenggarakan sebuah kegiatan yang bagi saya adalah sebuah kegiatan yang menjadi wujud nyata atas nilai ECCD RC yang selama ini diusung, yaitu mengupayakan pemenuhan hak anak dan pendidikan yang berpusat pada anak. Kegiatan itu diberi nama SEMARAK, kependekan dari Seminar Suara Anak. 

Seperti arti kata semarak itu sendiri, SEMARAK benar-benar menghadirkan rasa semangat, bahagia dan keceriaan dalam hari-hari saya, dan sepertinya itu juga terasa bagi setiap orang yang terlibat di dalamnya.

Apa itu SEMARAK? 

Kegiatan ini adalah ajang bagi anak untuk menyuarakan pendapatnya mengenai sebuah tema. SEMARAK hadir sebagai wadah yang memberi kesempatan kepada setiap anak, tanpa terkecual untuk didengar suaranya, diapresiasi karyanya, serta diberi kesempatan untuk diskusi bersama.

SEMARAK diinisiasi oleh ECCD RC dan telah berlangsung sebanyak empat kali (3 kali daring dan 1 kali hybrid). Pelaksanaan SEMARAK di bulan Januari 2026 ini adalah SEMARAK yang keempat, dan yang pertama kali diadakan secara hybrid (daring dan luring). Tema yang diambil adalah “Kita Beragam, Kita Teman”. Sebuah tema yang diusung sebagai upaya ECCD RC mengimbaskan salah satu nilainya yaitu inklusivitas, melalui sudut pandang anak-anak.

Tulisan kali ini, tidak akan membahas SEMARAK sebagai sebuah kegiatan, tetapi saya ingin mengajak pembaca untuk melihat satu tahap proses yang dilalui oleh kami sebagai fasilitator, anak sebagai pencerita cilik dan orang tua sebagai pendamping anak. Tahapan itu adalah tahap mentoring/pendampingan. Sebuah tahap yang berlangsung sebelum puncak acara yang justru mengambil peran begitu penting dari keseluruhan rangkaian kegiatan. Saya bisa menyatakan bahwa mentoring berperan sekitar 70% atau bahkan lebih, dalam menunjang keberhasilan yang dicapai SEMARAK tahun ini. 

Baik, mari kita mulai melihat ulang proses mentoring yang berlangsung di SEMARAK 2026. 

Proses mentoring dalam SEMARAK 2026, berlangsung sebanyak enam kali pertemuan, enam pertemuan daring, dan dua pertemuan sebagai latihan presentasi. Jumlah pertemuan ini tentu saja sudah kami tentukan sejak awal ketika membuat perencanaan SEMARAK, juga termasuk merencanakan tema/materi bahasan dalam setiap pertemuan, atau mungkin lebih dikenal dengan nama Silabus. 

Berikut contoh silabus yang kami buat.

MENTORING 1
Tanggal ………………. Durasi: 60 menit
Tujuan
  • Membangun kepercayaan setiap teman yang terlibat
  • Memperkenalkan bentuk kegiatan SEMARAK
  • Mengajak berdiskusi tentang tema “Kita Beragam, Kita Teman”
Materi
  • Yuk kenalan sama teman dewasa dan teman kecil yang hadir hari ini.
  • Apa itu SEMARAK? Kita bisa apa saja di SEMARAK?
  • Coba lihat gambar ini, coba ceritakan yang teman-teman lihat dari gambar ini?
  • Kira-kira teman-teman di SEMARAK mau cerita tentang apa?
Alat dan bahan
  • Slide PPT
  • Video SEMARAK tahun 2020 (Hak Anak), menit ke …., ….., dan …… (Video ada di Youtube)
  • Gambar logo Open House ECCD RC 2026 (masuk PPT)
Alur kegiatan 19.00-19.15 Pembukaan, perkenalan, membuat kesepakatan

19.15-19.45 Pembahasan materi

19.45-20.00 Penutup

Catatan Pembagian tim: Tita sebagai mentor, Frida bagian teknis, Retno notulensi

Silabus sangat membantu kami dalam mengatur jalannya proses mentoring. Walaupun fleksibilitas terhadap situasi yang terjadi pada hari pelaksanaan tetap dibutuhkan.

Tugas saya dalam proses mentoring ini adalah memantik, menjembatani, dan mendukung teman-teman kecil yang akan membawakan presentasinya dalam SEMARAK, agar mereka bisa mengeluarkan ide atau gagasan yang murni dari diri mereka. 

Jujur, ini tidak mudah dan saya selalu dipenuhi kekhawatiran ketika melakukannya, bahkan hingga hari terakhir mentoring. Bukan khawatir apakah teman-teman kecil itu bisa, tetapi justru khawatir pada diri saya sendiri apakah saya bisa menjadi teman diskusi yang menyenangkan bagi teman-teman kecil itu? Apakah mereka bisa percaya dan bercerita kepada saya, orang yang baru saja mereka kenal? Apakah saya cukup menarik dan memantik ide mereka? Rasanya selalu berdebar-debar setiap kali akan memulai mentoring, bahkan saya mengalami psikosomatis (sakit perut beberapa jam sebelum kegiatan). Namun, saya juga menyadari bahwa berdebar ini karena saya sangat antusias untuk berdiskusi dengan teman-teman kecil ini dan penasaran terhadap respon yang akan mereka berikan. 

Sebagai pemantik, kami menyiapkan berbagai pertanyaan pemantik yang akan kami gunakan dalam proses mentoring, beberapa contoh pertanyaan pemantiknya adalah:

  • Kamu suka main sama teman yang seperti apa?
  • Kalau sikap teman yang kurang kamu sukai yang seperti apa?
  • Pernahkan melihat orang yang berbeda darimu?
  • Bagaimana sikapmu kalau ada teman yang berbeda darimu?
  • Di sekolah/di rumah teman-temanmu seperti apa saja?
  • dst.

Pertanyaan-pertanyaan pemantik ini pada dasarnya adalah pegangan untuk mentor menggulirkan jalannya diskusi. Menyusun pertanyaan pemantik ini sangat membantu saya merasa aman, tenang, dan tidak khawatir “macet” pikirannya ketika memimpin proses mentoring.

Lalu, bagaimana berjalannya proses mentoring?

Segala kekhawatiran saya lenyap.
Saya merasa diterima, saya merasa dipercaya, saya merasa diberi ruang besar untuk menjadi teman diskusi bagi teman-teman kecil ini. Ternyata, anak-anak punya penerimaan yang luar biasa. Mereka sangat terbuka. Ini modal besar yang dimiliki oleh anak-anak untuk belajar, mungkin karena itulah mereka selalu bisa menjadi “pembelajar”.

 Ini satu kebahagian saya sebagai pemantik.

Satu lontaran yang saya berikan, dan saya dapat sepuluh kali lipat respon dari teman-teman kecil. Begitu seterusnya, sepertinya tidak akan ada hentinya. Jadi, saya sebagai pemantik benar-benar tidak pernah “macet”. Bahkan saya seperti selalu mendapat gagasan/ide baru untuk dilontarkan dari respon yang diberikan teman-teman kecil. Jadi saya pemantik yang terpantik.

Satu lagi kebahagiaan saya sebagai pemantik.

Kejujuran selalu saya dapatkan dari teman-teman kecil. Bahagia, antusias, bingung, dan berbagai perasaan lain akan dengan mudah mereka sampaikan. Justru dari situ saya selalu punya peluang untuk memperbaiki diri dalam memfasilitasi. Dengan kata lain, diskusi bersama teman kecil akan membuat kita melakukan self evaluation dan kesadaran untuk mengembangkan diri.

Kebahagiaan lain sebagai pemantik. 

Bagaimana itu semua bisa terjadi?
Beberapa hal yang saya temukan dalam diri kami sebagai fasilitator yang menurut saya membuat proses mentoring menjadi begitu produktif.

  • Keterbukaan: Setiap orang yang terlibat di dalamnya selalu terbuka pada kondisi dirinya. Termasuk saya ketika melakukan sesuatu yang membuat teman kecil bingung maka saya akan mengatakan “Oya maaf kata-kata mbak Tita sulit dipahami ya. Mbak Tita ulangi ya.” Keterbukaan ini akan membuka pintu kepercayaan teman-teman kecil kepada kita teman dewasa.
  • Mendengarkan aktif: Benar-benar mendengarkan perkataan yang mereka ucapkan, bukan sekadar yang penting sudah didengarkan, tapi meresapi setiap perkataan. Dampak dari mendengarkan aktif adalah, anak akan merasa aman dan nyaman sehingga terbuka gagasan atau ide cemerlang dari anak.

“Aku suka waktu kita ngobrol, sampai menemukan ide cerita yang akan aku bawakan. Seru sekali .” (Suara Pencerita Cilik)

 

  • Konfirmasi bukan menghakimi: Beberapa respon atau tanggapan yang bagi orang dewasa, tidak masuk akal atau sulit dipahami. Menghadapi situasi seperti ini, saya memilih untuk bertanya ulang sebagai bentuk konfirmasi “Ooo, jadi menurutmu Ikan-ikan dan hewan laut itu berteman ya?”, bukan menghakimi “Kok gitu? Memangnya bisa!”
  • Selalu beri Apresiasi: Setiap respon adalah capaian, setiap upaya adalah capaian. Karena itu semua respon dan upaya patut di apresiasi. Saya yang sudah dewasa ini dan sudah punya pengalaman cukup banyak memimpin kegiatan, ketika akan membuka kegiatan mentoring saja khawatirnya luar biasa. Apalagi teman-teman kecil yang baru pertama memperkenalkan diri, berbicara dengan orang lain, bahkan pertama kali memberikan respon atau tanggapan. Maka, capaian mereka adalah hasil dari upaya yang besar sehingga apapun bentuknya patut diapresiasi. Bonusnya, interaksi proses mentoring menjadi positif. Semua saling mendengarkan, memberi tanggapan positif (bertanya atau komentar) dan selalu ada apresiasi dari teman-teman kecil.

Salah satu hal yang menjadi sorotan dan pengalaman berkesan dari sesi mentoring ini adalah respons anak-anak yang melampaui ekspektasi. Anak-anak mampu bercerita dengan bebas dan berani mengenai ide-ide mereka. Ide yang disampaikan pun bersifat unik serta memiliki makna tersendiri. Selain itu, apresiasi disampaikan secara timbal balik selama sesi sebagai bentuk penghargaan. Hal ini tidak terlepas dari peran mentor yang mampu membersamai anak-anak dengan baik melalui kemampuan mendengarkan secara aktif serta menggali ide-ide yang dimiliki anak.” 

(Tanggapan tim CLSD-Center of Life Span Development– yang membersamai proses mentoring)

Proses mentoring memberi saya perasaan penuh, perasaan diterima, dipercaya, dan dibutuhkan. Saya berperan sebagai pemantik, tetapi saya selalu menjadi yang terpantik dan selalu mempunyai kegelisahan yang ingin saya kelola sehingga menghasilkan ide dan energi baru untuk kembali memfasilitasi. Jadi siapa yang sebenarnya sedang belajar? Saya atau teman-teman kecil itu? Kami semua, kami belajar dan berkembang bersama. Teman-teman kecil mungkin tidak sepenuhnya sadar bahwa kehadiran mereka memberi banyak kontribusi pada diri saya dalam menjadi fasilitator, mereka hanya menjadi dirinya sendiri. 

Mungkin semua ini juga terjadi karena saya percaya pada teman-teman kecil bahwa mereka mampu dan punya banyak pengetahuan yang mungkin tidak saya miliki. Yang mereka butuhkan hanya stimulus/pemantik yang akan membuka berbagai pintu menuju gagasan maha dahsyat. 

Mengutip perkataan dari Romo Mangun:

Dalam diri anak sudah ada sifat “Mahaguru”, yaitu potensi ingin selalu tahu, ingin bertanya, ingin mengeksplorasi, ingin maju, ingin mekar, dan ingin mencapai kepenuhan diri.” 

Itulah yang saya rasakan selama proses mentoring. Jadi layak dan pantaslah kalau saya berbahagia menjadi pemantik dalam proses mentoring SEMARAK 2026.

 Tita Dian Wulansari (Staf Unit Training ECCD RC)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *