Dampak Diskriminasi TV bagi Anak

Oleh Endang Retno Widuri
KOORDINATUR TRAINING ECCD RC JOGJA

Saat ini banyak tanyangan TV yang penuh dengan diskriminasi. Baik berupa sinetron, komedi situasi, reality show, musik dan masih banyak lagi. Diskriminasi itu tentu berdampak negatif bagi anak, orangtua harus waspada.

Diskriminasi bisa berupa fisik seperti orang gemuk identik dengan suka makan, tidak pernah olahraga, malas, galak, judes dan cerewet. Kemudian pencitraan orang cantik adalah yang kulitnya putih, rambut panjang dan hurus, langsing. Dan masih banyak lagi.

Yang juga banyak muncul, terlebih di tayangan sinetron adalah diskriminasi ekonomi yang divisualisasi dengan anak pembantu miskin, bajunya jelek selalu sengsara dan disia-siakan. Tapi anak yang kaya, selalu punya banyak teman, apalagi yang bajunya bagus. Kemudian anak tiri identik dengan siksaan, disuruh-suruh terus.

Apa saja dampaknya untuk anak? Karena anak masih dalam tahap meniru maka apa yang dia lihat dan dia dengar akan dikuti. Misalnya anak bisa saja meniru adegan menghina orang, memaki, menyuruh teman yang menurutnya lebih miskin.

Selain itu, anak bisa saja menganggap bahwa yang di TV itu selalu benar, yang akhirnya dapat membentuk pola pikir anak. Bahwa temannya yang pakai kacamata adalah teman yang kuper, tolol, dan bisa dikerjain.

Untuk anak yang berada di stereotype yang selalu dicitrakan baik terus, misalnya cantik itu identik dengan kulit putih, rambut lurus, langsing, bisa membuat anak ini sombong dan hal yang paling buruk, si anak ini akan menganggap teman yang kriting, kulit hitam dan gemuk itu tidak cantik, tapi jelek.

Sedangkan pada anak yang kebetulan berada di stereotype yang dirugikan, seperti gemuk, hitam, keritage dan berkebutuhan khusus, atau dia adalah etnis tertentu, akan membuat anak tersebut minder. Dia merasa jelek, dan pasti tidak akan ada teman yang mau berteman dengannya.

Anak yang terobsesi untuk menjadi yang cantik sesuai pencitraan TV bisa melakukan berbagai Lal untuk mewujudkan obsesinya itu. Misalnya anak tidak mau banyak makan dan minum susu, karena takut gemuk. Anak lalu minta direbonding biar rambutnya lurus dan lain-lain. Apabila ini dilakukan oleh anak, tentu saja akan mempengaruhi proses perkembangan si anak.

Yang dilakukan orangtua

Yang past saat anak nonton TV, dampingi dan ajak diskusi. Diskusi bisa dimulai dengan pertanyaan, bagaimana pendapatmu? Apakah benar orang yang gemuk itu selalu galak, banyak bicara?

Ajak anak berdiskusi bahwa ada orang yang badannya besar tapi hatinya baik atau lembut. Ada juga orang gemuk yang tetap rajin olahraga, dan tentu saja berprestasi. Lalu orang batak belum tentu semua berwatak kasar, orang padang belum tentu juga pelit.

Karena tahap berfikir anak baru pada tahap berfikir konkret dan belum bisa berfikir secara abstrak maka jika anak dihadapkan pada contoh langsung itu lebih baik misalnya kebetulan si anak berambut keriting, dan kulitnya gelap, “menurutmu, apakah kamu jelek?”.

Anak diajak untuk menyampaikan kekuatan-kekuatan dia. Katakan ke anak bahwa tayangan di TV itu hanyalah dibuat. Ada skenarionya. Jadi belum tentu semua benar.

Harian Jogja, 30 Mei 2010

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *