Pemaknaan pribadi atas perayaan ulang tahun, yang juga merayakan keberagaman.
Oleh Tita Dian Wulansari
Staf Unit Training dan Pendampingan ECCD RC
22 Juli 2026, ECCD RC dan Sekolah Rumah Citta merayakan hari kelahirannya yang ke 24 tahun untuk ECCD RC dan 23 tahun untuk Sekolah Rumah Citta.
Bila disandingkan dengan tahapan perkembangan manusia, ECCD RC dan Sekolah Rumah Citta sudah memasuki masa dewasa awal. Individu yang berada pada masa perkembangan ini, memiliki tugas perkembangan untuk meraih otonomi dan membangun identitasnya. Seseorang akan mulai memantapkan diri sebagai pribadi yang mandiri dan menegaskan prinsip, nilai-nilai dan preferensi dirinya. Apakah tugas perkembangan ini juga terjadi pada ECCD RC dan Sekolah Rumah Citta?
Sejak awal berdirinya ECCD RC memiliki visi: anak usia dini mendapatkan dunianya yang menghargai nilai inklusivitas, terutama hak-hak anak, keadilan gender, ramah lingkungan hidup dan kearifan lokal sehingga tumbuh dan berkembang optimal. Salah satu nilai yang diusung untuk mewujudkan visinya adalah nilai inklusivitas atau ramah keberagaman, di mana ECCD RC percaya bahwa inklusivitas adalah sikap atau kebiasaan hidup setiap harinya untuk menerima dan menghargai segala bentuk perbedaan dan menjadikan perbedaan tersebut sumber “kekayaan” hidup.
“Kehidupan sehari-hari kita pada dasarnya adalah tentang bagaimana hidup harmonis dalam keberagaman. Tentang bagaimana menerima keunikan identitas diri dan orang lain.”
Sekolah Rumah Citta.
Di usianya saat ini, ternyata nilai tersebut terus tegas dan mantap digenggam serta diwujudkan dalam segala aspek dan produk lembaga, termasuk di Sekolah Rumah Citta.
Mengapa saya bisa menyatakan pernyataan tersebut?
Di hari perayaan ulang tahun ke 24 dan 23 ini, ECCD RC dan Sekolah Rumah Citta menunjukan bukti bahwa nilai yang sejak lama ditanam dalam diri itu masih terus diejawantahkan dalam sikap sehari-hari yang akhirnya menjadi budaya. Salah satu bentuk nyatanya adalah kegiatan berdoa pada saat upacara bendera untuk merayakan ulang tahun, sekaligus hari anak nasional. Peristiwa tersebut membawa saya pada kenangan atas upacara bendera yang selalu saya lalui setiap hari Senin selama saya bersekolah, SD hingga SMA. Juga kenangan atas kegiatan upacara di Istana Negara pada saat perayaan kemerdekaan Republik Indonesia. Bukan karena kesamaan kegiatannya, tetapi justru karena ada perbedaan kenangan yang saya temukan. Dahulu setiap pembacaan doa, terutama pada saat saya bersekolah SMP dan SMA (sekolah negeri), doa dibawakan dalam satu cara agama tertentu. Begitu pula ketika upacara peringatan kemerdekaan Republik Indonesia, doa juga dibawakan dalam satu cara agama tertentu.
Kenyataan ini membuat saya pernah memikirkan satu pertanyaan yang saya lontarkan kepada orang lain “kenapa berdoanya yang dipakai hanya cara itu ya, padahal orang Indonesia juga ada yang berdoa dengan cara lain?”. Respon yang saya dapat membuat saya berhenti memikirkan hal tersebut, begini responnya “Ya karena sudah ketentuannya seperti itu, kita tidak bisa mengubahnya.” Pengalaman merasakan sendiri, melihat kenyataan dan mendapat respon seperti itu membuat saya sampai pada pikiran “dunia memang berjalan seperti itu”. Kondisi dunia yang seperti ini, membuat saya (yang masih kecil) menjadi merasa perlu menyembunyikan cara saya berdoa, karena cara saya berbeda dengan cara yang biasa dilakukan pada perayaan yang melibatkan masyarakat umum.
Sepertinya, saat ini di lingkungan pendidikan yang heterogen, masih menerapkan cara atau sikap berdasar pada satu nilai tertentu, padahal di dalamnya ada banyak nilai atau keyakinan yang dianut oleh masyarakatnya. Dan sepertinya, mungkin masih ada anak yang merasakan seperti yang saya rasakan dulu, malu menunjukan dirinya yang berbeda, merasa sepertinya tidak punya “tempat” di lingkungan tersebut.
Lalu, apa yang berbeda pada kegiatan berdoa di upacara bendera perayaan ulang tahun ECCD RC dan Sekolah Rumah Citta? Saya akan mendeskripsikan peristiwanya supaya kita sama-sama bisa membayangkan situasinya dan merasakan keindahannya.
Bayangkan, ada empat anak usia berusia 4-6 tahun, berada pada tingkat TK Kecil hingga Pra SD, dipersilakan maju oleh edukator. Satu per satu nama mereka dipanggil, ada anak yang maju seorang diri, ada yang ditemani edukator atau orang tuanya. Mereka adalah anak-anak yang akan memimpin doa berdasar agama atau keyakinan anak-anak yang bersekolah di Sekolah Rumah Citta. Masing-masing dari mereka mewakili agama Islam, Katolik, Kristen Protestan, dan Budha. Dipandu oleh edukator, setiap anak bergiliran membacakan doa menurut cara mereka masing-masing. Peserta upacara yang lain (teman kecil, para staf, edukator) dipersilakan ikut berdoa sesuai keyakinan masing-masing, dipimpin oleh teman kecil yang mewakili. Teman beragama Islam menyampaikan permohonannya kepada “Allah”, teman Katolik memulai doa dengan membuat tanda Salib, teman Kristen Protestan menyampaikan doa kepada “Tuhan Yesus” dan teman Budha melafalkan doa “aku berlindung kepada Buddha, Dhamma dan Sangha. Om Mani Padme Hum. Terima kasih semua Buddha, Bodhisattva, Makhluk Suci, semoga semua makhluk berbahagia. Sadhu Sadhu Sadhu.”
Apakah sudah terbayang situasinya?
Cara berdoa seperti ini, sebenarnya selalu dilakukan oleh ECCD RC dan Sekolah Rumah Citta pada semua kegiatan baik yang melibatkan anak-anak maupun tidak. Pada kegiatan pembelajaran sehari-hari, menggunakan cara universal, menyebutkan “Ya Tuhan” yang dirasa bisa diterima oleh semua kepercayaan.
Bagaimana perasaan saya?
Saya merasa diterima dan menjadi bagian dari lingkungan masyarakat yang beragam ini. Tidak tersisihkan. Teman-teman kecil saat ini mungkin tidak terlalu merasakan efek dari hal sederhana ini, berdoa dengan semua cara yang ada di sekolahnya, tapi yang saya bisa yakini bahwa pasti mereka merasa dirinya dan orang lain yang berbeda mendapat “tempat” di dunia ini. Semua mendapat perhatian dan perlakuan yang sama.
Sederhana, tetapi benih nilai baik yang ditanam pasti akan tumbuh.
Dan yang lebih menggembirakan adalah pertanyaan masa lalu saya yang sebenarnya adalah harapan bahwa dunia melihat, menghargai dan memfasilitasi keberagaman, saya lihat di satu lingkungan ini, ECCD RC dan Sekolah Rumah Citta. Tempat ini berani menjadi berbeda dari yang biasanya berlangsung di Indonesia. Negara Indonesia? Bagaimana? Apakah berani menciptakan cara yang berbeda, untuk menunjukan penghargaan terhadap keberagaman? Saya menunggu, kapan moment berdoa di upacara perayaan kemerdekaan Indonesia dipimpin oleh (paling tidak) enam orang yang mewakili kepercayaan yang diakui di negara ini.
Di usianya yang memasuki masa dewasa awal ini, ECCD RC dan Sekolah Rumah Citta memperlihatkan betapa identitas, nilai dan preferensinya tidak luntur dan semakin menguat. Selamat memasuki masa dewasa awal dan semoga nilai-nilai baik selalu menjadi dasar untuk melangkah dan diteruskan dari generasi ke generasi.
