Setiap sekolah mempunyai tujuan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, nyaman dan aman. Untuk pendidikan usia dini suasana belajar yang nyaman sangat penting karena kegiatan main yang nyaman dan aman akan mendukung perkembangan fisik, kognitif, sosial, bahasa, dan emosional.
Pada anak usia 0–6 tahun, mungkin ada anak yang tidak tertarik untuk belajar. Guru perlu memahami bahwa belajar bagi anak bukanlah duduk diam dan menangkap informasi, melainkan proses aktif anak yang terjadi ketika anak bermain, mencoba hal baru, dan dapat menjalin hubungan sosial antar teman sebaya.
Sekolah Rumah Citta menggunakan pendekatan Teacher Behavior Continuum (TBC) yang berkaitan dengan bagaimana anak merasa tertarik untuk belajar. Ketika guru menggunakan pendekatan yang mendukung dan membimbing, anak merasa aman, dihargai, dan punya ruang untuk berekspresi. Ini menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan membuat anak lebih ingin tahu serta berani mencoba hal-hal baru.
Sebaliknya, jika guru terlalu sering menggunakan pendekatan yang mengontrol atau memerintah tanpa memberi ruang bagi anak untuk berpikir dan memilih, maka anak bisa merasa tertekan atau takut salah. Hal ini akan mengurangi motivasi mereka untuk belajar.
Guru di sekolah Rumah Citta memberi ruang bagi anak untuk berbicara dan berpendapat. Untuk menjadi guru juga perlu memilih metode yang ramah anak dan mendorong partisipasi aktif anak dalam proses belajar, termasuk dalam pengambilan keputusan dan kesepakatan. Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang digunakan oleh sekolah Rumah Citta untuk membuat anak menjadi tertarik mengikuti kegiatan. Dengan tema yang dipilih sendiri oleh anak melalui proses voting, anak bisa belajar banyak hal misalnya mengenal diri, berinteraksi dengan teman,mengembangkan rasa ingin tahu, dan bekerja sama.
Guru boleh mencoba berbagai teknik fasilitasi yang ramah anak, anak akan lebih tertarik dan mau belajar atau bermain, karena pendekatan yang beragam memberi anak kesempatan untuk menemukan cara belajar yang paling sesuai dengan minat, gaya, dan tahap perkembangannya. Ketidaktertarikan anak sering kali bukan karena mereka tidak mau belajar, tetapi karena pendekatan yang digunakan belum sesuai dengan kebutuhan perkembangan, minat, atau kondisi emosional mereka saat itu. Misalnya dengan tema dinosaurus, guru bisa memberikan pilihan main untuk beberapa area seperti area persiapan menulis dengan mencocok gambar dinosaurus, area persiapan membaca dengan mencari huruf ‘’dinosaurus’’ pada buku cerita bergambar, area karya seni dengan membuat kolase dinosaurus dsb.
Ketika anak tidak tertarik untuk mengikuti kegiatan belajar/bermain guru perlu merespons dengan cara yang tidak memaksa anak, misalnya dengan mengamati terlebih dahulu apa yang sedang dirasakan atau dibutuhkan anak, lalu mencoba mengubah metode menjadi lebih menyenangkan dan interaktif. Teknik fasilitasi seperti mendongeng, permainan sensorik, gerak dan lagu, atau eksperimen sederhana bisa menjadi pintu masuk untuk untuk membuat anak tertarik pada kegiatan. Memberi anak pilihan aktivitas, melibatkan mereka dalam proses, dan menggunakan bahasa positif juga membantu anak merasa dihargai.
Selain itu, variasi teknik memungkinkan guru untuk mengamati respons anak secara lebih mendalam. Misalnya, ada anak yang kurang suka dengan teknik fasilitasi diskusi/ceramah, tetapi anak lebih menyukai pembelajaran yang dilengkapi dengan area permainan, sementara anak yang suka bicara bisa mengekspresikan diri lewat diskusi atau cerita. Dengan mencoba berbagai teknik, guru tidak hanya memfasilitasi pembelajaran, tetapi juga membangun hubungan yang positif pada anak.
Ada contoh kasus yang kadang terjadi kelas, misal anak tampak gelisah, tidak mengikuti instruksi, dan mulai bermain sendiri saat kegiatan. Guru boleh mengamati dulu, apakah anak sudah terlalu lama duduk? Apakah kegiatan terlalu sulit atau tidak menarik baginya? Coba ubah pendekatan, misalnya dengan gerak dan lagu, atau permainan yang melibatkan fisik. Setelah anak kembali fokus, beri penguatan positif, “Kamu hebat banget berhasil menyelesaikan karyamu’’.
Guru bisa mengubah pendekatan yang interaktif agar menarik minat anak, misalnya dengan menggunakan boneka, gambar, atau gerakan tangan saat bercerita. Jika anak suka bergerak, ajak ia berperan sebagai tokoh dalam cerita atau membuat suara hewan bersama. Bila anak terlihat lelah, beri waktu istirahat singkat sebelum melanjutkan kegiatan. Setelah anak mulai tertarik, beri respon positif seperti, “Wah, hebat banget bisa ikut cerita sampai selesai.” Guru juga bisa memberi pilihan, “Kamu mau dengar cerita sambil duduk di kursi atau di karpet?” Memberi pilihan membuat anak merasa dihargai dan lebih terlibat.
Dengan memahami bahwa setiap anak memiliki cara belajar dan kebutuhan yang berbeda, guru PAUD diharapkan untuk peka, fleksibel, dan responsif dalam memilih metode. Ketika guru mampu membangun suasana yang hangat, memberi ruang bagi anak untuk berekspresi, dan menyesuaikan teknik pembelajaran sesuai kondisi anak, maka proses belajar tidak hanya menjadi efektif, tetapi juga menyenangkan dan bermakna.
Bernadheta Fridayanti
Unit Litbang ECCD-RC
