Laju pendidikan modern saat ini yang sering kali terfokus pada kurikulum yang memiliki target pencapaian akademis. Rumah Citta yang mengajarkan kita kembali tentang esensi pembelajaran berpusat pada anak. Di kelas Pra SD ini, pendekatan pembelajaran mendalam bukan sekadar metode mengajar, melainkan filosofi yang menghargai setiap suara anak, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus.
Pembelajaran mendalam di Rumah Citta praktik nyata yang terwujud melalui serangkaian keputusan sadar untuk mendengarkan, mengamati, dan merespons minat alami anak-anak. Di sinilah keajaiban dimulai ketika tema pembelajaran muncul dari dalam diri anak-anak itu sendiri.
Tulisan ini akan membagikan perjalanan bagaimana tema sederhana “Masak-Masakan” terpilih melalui proses demokratis yang inklusif, bagaimana tema ini dikembangkan selama enam minggu menjadi pengalaman belajar yang kaya, dan pelajaran berharga yang bisa kita petik dari praktik ini. Ini adalah cerita tentang bagaimana dari kelas di Rumah Citta mengajarkan kita bahwa pendidikan sejati dimulai ketika kita benar-benar mendengarkan suara anak.
Apa Tema Pra SD di Awal Semester?
Setiap awal semester di kelas Pra SD Rumah Citta dimulai dengan periode transisi. Setelah melalui Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang berfokus pada perlindungan diri dan pembiasaan lingkungan baru, anak-anak memasuki fase penjajakan di mana mereka diajak untuk menentukan arah pembelajaran mereka sendiri. Ini fondasi penting yang akan menentukan keterlibatan dan kedalaman pemahaman mereka selama beberapa minggu ke depan.
Di Rumah Citta, tema pembelajaran tidak ditentukan oleh edukator semata. Sebaliknya, tema muncul dari kumpulan minat, rasa ingin tahu, dan pengalaman hidup yang dibawa oleh setiap anak ke dalam kelas. Pendekatan ini didasarkan pada pemahaman bahwa ketika anak-anak terhubung dengan apa yang mereka pelajari, pembelajaran menjadi lebih bermakna dan bertahan lebih lama dalam ingatan mereka.
Tema Pra SD di awal semester memiliki ciri khas yang membedakannya dari tema-tema di jenjang lain. Pertama, tema-tema ini selalu bersifat dekat dengan pengalaman keseharian anak-anak. Kedua, mereka memiliki potensi besar untuk mengintegrasikan berbagai aspek perkembangan dari kognitif, motorik, sosial-emosional, bahasa hingga nilai agama dan budi pekerti. Ketiga, tema-tema ini harus fleksibel cukup untuk bisa dikembangkan sesuai dengan dinamika yang muncul selama proses pembelajaran.
Sebelum memasuki proses pemilihan tema, edukator di Rumah Citta melakukan serangkaian asesmen awal untuk memahami minat awal anak-anak. Observasi dan asesmen ini dilakukan secara informal selama aktivitas bermain bebas, saat berinteraksi di lingkungan kelas, dan melalui percakapan sehari-hari. Hasil asesmen ini menjadi modal awal untuk memahami potensi arah pembelajaran yang memenuhi kebutuhan dan kekuatan anak-anak.
Salah satu keunikan pendekatan di Rumah Citta adalah kesadaran bahwa setiap anak membawa pengalaman dan latar belakang yang berbeda-beda. Ada anak yang datang dari keluarga yang sering memasak bersama, ada yang tumbuh dengan pengalaman berjualan, ada yang terbiasa dengan kompetisi, dan ada pula yang memiliki minat pada transportasi, dll. Keragaman ini bukanlah hambatan, melainkan kekayaan yang akan memperkaya proses pembelajaran kolektif. Pada usia 4-6 tahun di kelas Pra SD, anak-anak berada dalam tahap pra-operasional di mana mereka belajar melalui inderanya secara langsung, melalui manipulasi objek, dan melalui permainan peran. Oleh karena itu, tema yang dipilih harus memungkinkan anak-anak untuk terlibat secara aktif menggunakan semua indera mereka, untuk bereksperimen, dan untuk mengekspresikan diri dalam berbagai cara.
Penting untuk dicatat bahwa tema Pra SD di Rumah Citta tidak bertujuan untuk menghasilkan “produk akademis” dalam artian konvensional. Tujuannya: untuk membangun fondasi belajar sepanjang hayat, untuk mengembangkan rasa ingin tahu yang positif, dan untuk membentuk anak-anak yang percaya diri dalam mengeksplorasi dunia di sekitar mereka.
Tema Pra SD di awal semester juga selalu dirancang untuk bisa mengakomodasi berbagai gaya belajar. Ada anak yang belajar lebih baik melalui visual, ada yang audio ada yang kinestetik, dan ada yang kombinasi dari beberapa gaya tersebut. Oleh karena itu, tema yang bisa jadi kendaraan potensional untuk dikembangkan dalam berbagai modal pembelajaran ini.
Di sinilah pendekatan pembelajaran berpusat pada anak di Rumah Citta. Tema bukanlah batasan yang kaku, melainkan jembatan yang menghubungkan anak-anak dengan dunia pengetahuan yang lebih luas. Tema merupakan permulaan awal, bukan tujuan akhir. Tema “Masak-Masakan”, terlihat tampak sederhana bisa membuka pintu ke berbagai ranah pembelajaran yang tak terduga.
Bagaimana Proses Pemilihan Tema yang Inklusif?
Proses pemilihan tema di Rumah Citta merupakan salah satu aspek penting dalam pendekatan pembelajaran demokratis yang dirancang untuk memastikan setiap suara anak didengar, termasuk mereka yang memiliki bantuan komunikasi atau berkebutuhan khusus. Proses ini mengajarkan kita bahwa inklusi praktik nyata yang bisa diwujudkan melalui desain proses yang tepat.
Proses pemilihan tema dimulai dengan aktivitas yang disebut “gambar rahasia”. Setiap anak diberikan selembar kertas dan alat gambar, lalu diminta untuk menggambar sesuatu yang mereka sangat sukai atau sangat ingin tahu lebih banyak. Aktivitas ini dirancang lebih universal karena ada anak-anak yang lebih mudah mengekspresikan diri melalui gambar daripada kata-kata, terutama mereka yang masih dalam tahap pengembangan bahasa atau memiliki kesulitan komunikasi.
Setelah semua anak selesai menggambar, langkah selanjutnya adalah sesi presentasi gambar. Di sinilah tantangan inklusi yang sesungguhnya muncul. Bagaimana memastikan anak-anak yang belum lancar berbicara atau memiliki kebutuhan khusus dapat berpartisipasi?
Guru kemudian memberikan berbagai pilihan cara presentasi. Ini adalah bukti bahwa ketika kita menyediakan cara alternatif untuk ekspresi, anak-anak dengan berbagai kemampuan dapat berpartisipasi secara bermakna. Pendekatan ini adalah implementasi nyata dari prinsip Universal Design for Learning (UDL), di mana berbagai cara ekspresi diakomodasi.
Diskusi ini dilakukan dengan bahasa yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman pra-SD. Edukator mengajukan pertanyaan terbuka seperti: “Apa saja yang bisa kita pelajari dari tema ….?”, “Dari mana kita bisa mendapatkan informasi tentang….?”, atau “Apa saja aktivitas seru yang bisa kita lakukan dengan tema masak-masakan?”. Tujuannya adalah untuk membantu anak-anak memvisualisasikan potensi pembelajaran dari setiap tema, bukan untuk mempengaruhi pilihan mereka.
Salah aspek penting dari proses ini adalah penghapusan tekanan. Anak-anak diajari bahwa tidak ada “jawaban benar” dalam memilih tema, dan bahwa setiap pilihan adalah valid. Mereka juga dipersilakan untuk mengubah pikiran mereka selama proses diskusi berlangsung.
Teknik voting yang digunakan juga dirancang untuk bebas tekanan. Hasil voting menunjukkan bahwa tema “Masak-Masakan” memperoleh suara terbanyak, cukup signifikan dibandingkan tema lainnya. Yang menarik adalah bahwa hampir semua anak, termasuk mereka yang awalnya menggambar masak-masakan maupun yang tidak, akhirnya memilih tema ini. Ini menunjukkan bahwa melalui diskusi dan visualisasi, anak-anak dapat melihat potensi keasyikan dari tema yang awalnya mungkin tidak menjadi pilihan pertama mereka.
Proses pemilihan tema yang inklusif ini mengajarkan kita beberapa pelajaran penting. Pertama, bahwa setiap anak memiliki suara, dan tanggung jawab kita sebagai pendidik adalah selalu melontarkan pertanyaan pemantik agar anak-anak bisa terlibat, menyediakan berbagai cara bagi suara itu untuk terdengar. Kedua, bahwa inklusi memerlukan desain proses yang tepat, Ketiga, bahwa demokrasi di kelas itu mungkin, asalkan kita menyediakan struktur yang memungkinkan partisipasi setiap anak tanpa tekanan.
Proses ini membuktikan bahwa anak-anak Pra SD dapat membuat keputusan kolektif yang bermakna ketika diberi kesempatan dan fasilitasi yang tepat. Mereka subjek aktif dalam pembelajaran mereka sendiri. Ini akan menjadi fondasi yang akan membangun pembelajar seumur hidup.
Alur Waktu Pembelajaran
Setelah tema “Masak-Masakan” terpilih tantangan berikutnya adalah merancang alur pembelajaran yang terstruktur namun tetap fleksibel. Di Rumah Citta, Edukator membuat RPP sebagai perangkat ajar yang membantu fasilitasi anak di kelas namun bukanlah dokumen kaku yang harus diikuti secara literal, melainkan peta dinamis yang bisa berubah sesuai dengan respons dan minat yang muncul dari anak-anak selama proses pembelajaran berlangsung. Pendekatan ini memastikan bahwa kurikulum berjalan mengikuti anak, bukan sebaliknya. Maka diperlukan proes refleksi setelah pembelajaran berjalan.
Alur waktu pembelajaran untuk tema “Masak-Masakan” dimulai dengan proses webbing anak dan selanjutnya dibuat webbing educator. Ini adalah tahap di mana tim edukator duduk bersama untuk memetakan berbagai kemungkinan arah pembelajaran yang bisa dikembangkan dari tema utama. Webbing ini pemetaan konsep luas yang bisa dijelajahi bersama anak-anak nanti. Hal ini memastikan edukator memiliki persiapan yang cukup, namun tetap terbuka untuk improvisasi berdasarkan pertanyaan dan minat yang muncul secara spontan dari anak-anak.
Webbing untuk tema “Masak-Masakan” memiliki beberapa cabang utama. Cabang pertama adalah “Alat Masak dan Kegunaannya” yang membahas berbagai peralatan dapur dan fungsinya. Cabang kedua adalah “Bahan Makanan Sehat” yang membahas tentang nutrisi, sumber makanan, dan pentingnya makanan bergizi. Cabang ketiga adalah “Proses Memasak” yang membahas tentang tahapan dalam memasak, perubahan fisik makanan saat dimasak, dan keselamatan di dapur. Cabang keempat adalah “Budaya Kuliner” yang membahas tentang berbagai makanan dari daerah atau negara lain. Cabang kelima adalah “Kerja Sama di Dapur” yang membahas tentang peran dan tanggung jawab saat memasak bersama.
Dari webbing ini, tim edukator kemudian merancang kerangka waktu untuk enam minggu pembelajaran. Minggu pertama difokuskan pada pengenalan tema dasar dan eksplorasi awal. Minggu ketiga hingga kelima mendalam pada subtema spesifik yang muncul dari minat anak-anak. Minggu keenam adalah minggu penutup di mana anak-anak mengadakan “pesta masak” kecil sebagai karya akhir dari pembelajaran mereka.
Kidung Ardha Marsela
Edukator kelas Pra SD
