memestakan WAISAK…..

SELAMAT HARI RAYA WAISAK… Semoga semua makhluk hidup di bumi ini selalu berbahagia…

Pada tanggal 15 Mei 2012 kemarin, teman teman kecil dari LS Rumah Citta ECCD RC beserta orang dewasa (staff RC), mengadakan kunjungan ke Vihara VIdyaloka Timoho. Kegiatan ini dalam rangka memestakan hari raya waisak yang jatuh pada tanggal 6 Mei 2012. Dengan kegiatan ini, diharapkan anak anak akan semakin mengenal adanya keberagaman di Indonesia. Sehingga akhirnya kita bisa mengajak anak untuk saling menghormati dan menghargai perbedaan yang ada. Kali ini, kami mencoba mengenalkan ke anak, bentuk dari Vihara yaitu tempat ibadah umat Budha secara fisik (mengunjungi bangunannya) , dan selain itu juga kami melibatkan beberapa teman dari VIhara tersebut (umat Budha) untuk bercerita tentang Vihara dan yang ada di dalamnya, serta menceritakan tentang perayaan Waisak itu sendiri. Kegiatan dimulai dengan kumpul bersama di hall, sambil nonton film. Selanjutnya circle awal yang dipimpin oleh mbak Pundhy (asis. Edu TK B), sambil menjelaskan pijakan untuk teman teman kecil saat akan berkegiatan nanti. Setelah siap, teman teman kecil diajak ke ruangan lain yang merupakan tempat berdoa Umat Budha di Vihara tersebut.

Selanjutnya, perwakilan dari Vihara Vidyaloka yaitu mbak Jayanti, kami minta untuk menceritakan tentang Hari waisak dan beberapa hal terkait Vihara. Mbak Jayanti membuka cerita dengan salam “Namo Budaya” sambil mengatupkan kedua tangan di depan dada, diikuti oleh teman teman semua. Selanjutnya mbak Jayanti bercerita bahwa Hari Tri Suci Waisak adalah memperingati 3 perkara, yaitu kelahiran Sidharta Gautama, kemudian Sidharta Gautama mencapai kesucian, dan wafatnya Sidharta Gautama. Setela itu, mbak Jayanti menceritakan tentang benda benda yang ada di Altar yaitu ada patung Budha (diletakkan disitu , agar sebagai pengingat akan ajaran2 sang Budha), kemudian bunga (melambangkan bahwa hidup itu tidak ada yang abadi, karena akan berputar dari kuncup, mekar, layu, mati seperti bunga), lalu ada dupa (melambangkan ajaran Sang Budha yang indah, wangi, dan baik untuk diikuti), lalu ada roda dharma di belakang patung (melambangkan 8 jalan kebenaran). Dari 8 jalan kebenaran menurut ajaran Budha ini, mbak Jayanti mencoba mendiskusikan dengan teman teman kecil bahwa, saat kita hidup, antara lain, kita harus jujur, sayang teman, berpikir positif (berfikir yang baik), melakukan segala sesuatu yang benar, bisa berhemat, bisa berdoa dengan tenang, dan hidup dengan orang lain sesuai kesepakatan.

Selanjutnya, untuk semakin menguatkan beberapa hal yang disampaikan oleh mbak Jayanti, orang dewasa bekerja sama dengan beberapa teman TK B dan Prep, menyajikan sebuah drama. Drama ini menceritakan tentang kisah seorang anak laki laki bernama arok , yang hidup bersama dengan ibunya. Ayahnya sudah lama meninggal. Mereka hanya tinggal berdua. Suatu hari, arok menyampaikan maksudnya ke ibunya , bahwa dia ingin melanjutkan pekerjaan ayahnya dahulu yaitu berjualan emas. Ibunya sangat senang mendengar keinginan anaknya. Ibunya merestui, dengan syarat berjualan di tempat yang dekat saja, sehingg mereka masih bisa selalu berkumpul.

Suatu hari arok bertemu dengan teman ayahnya seorang professor. Lalu professor itu bercerita kepada arok bahwa dulu, ayahnya tidak hanya berjualan emas dari rumah ke rumah, tapi juga berjulan emas di pasar. Arok lalu tertarik melakukan itu, dan sesampainya di rumah, arok menyampaikan maksudnya itu ke ibunya bahwa dia juga ingin berjualan emas di pasar. Ibunya menanggapi dengan baik dan merestui. Selanjutnya emas yang terjual lebih banyak. Mereka berdua sangat senang. Kemudian suatu hari, arok bertemu dengan seorang Jendral. Ternyata dia juga teman ayahnya sewaktu masih hidup dulu. Jendral bercerita bahwa dulu, ayah arok tidak hanya berjualan emas di pasar juga, tapi juga di perahu. Kemudian arok berfikir, mungkin emas dia akan laku lebih banyak apabila dia juga berjualan emas di perahu. Sesampai di rumah, arok menyampaikan maksud hatinya ke ibunya. Bahwa dia ingin mengikuti jejak ayahnya untuk berjualan emas di perahu. Ibunya kurang setuju, karena itu terlalu berbahaya. Sehingga ibunya mengingatkan lagi, kesepakatan awal mereka , kalau berjualan emas di tempat yang tidak terlalu jauh..sehingga mereka masih bisa bertemu setiap hari. Tapi arok tetap kukuh dengan keinginannya, sehingga dia tetap pergi, tanpa menghiraukan tangisan ibunya yang melarangnya pergi. Arok pun meninggalkan rumahnya. Dan ibunya sangat sedih. Berhari hari ibunya menangis, karena arok tidak kunjung pulang.

Di tempat yang berbeda, arok tiba tiba tersadar dari tidurnya. Tiba tiba dia bertemu dengan peri cantik. Dia kaget, dan bertanya, “dimana aku? Dan siapa kamu?” peri menjawab, “ kamu tenggelam dari perahu. Sekarang kamu ada di dasar laut. Aku peri yang telah menolong kamu”. Arok berterimakasih, dan minta makanan karena dia lapar. Selanjutnya arok minta tempat untuk beristirahat, karena dia sangat lelah. Peri lalu menunjukkan sebuah ruangan untuk istirahat arok. Saat arok membuka ruangan tersebut, arok sangat terkejut! Karena dia melihat ada sosok seorang perempuan yang mirip sekali dengan ibunya, sedang menangis tersedu sedu. Arok kemudian bertanya pada peri. “ peri, itu kan ibuku. Mengapa dia menangis?” kata peri menjawab, “ibumu sangat sedih karena kamu telah meninggalkan dia. Dia sedih karena kamu tidak mengikuti kesepaktan yang telah kalian buat. Kalau kamu menyesal, dan mau kembali ke rumah, aku bisa menolongmu. Tapi kamu harus janji tidak akan mengulangi perbuatanmu”.

Arok senang sekali masih ada kesempatan untuk bertemu ibu yang sangat dia sayangi. Dia lalu berjanji tidak akan meninggalkan ibunya lagi, dan akan mengikuti kesepakatan yang telah dibuat bersama ibunya. Beberapa saat kemudian, peri mengacungkan tongkat ajaibnya, dan tiba tiba saja arok sudah berada di halaman rumahnya . dia kemudian lari ke dalam rumah sambil memanggil manggil ibunya. Ibunya yang masih sedih, mendengar suara anaknya pulang. Mereka sangat bahagia karena bisa bertemu kembali. Mereka kemudian berpelukan, dan arok meminta maaf kepada ibunya karena telah membuat ibunya sedih. Ibunya memaafkan arok , dan percaya dengan janji arok yang tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Mereka lalu hidup bahagia. Arok berjualan tidak jauh dari kotanya. Dan setiap hari mereka selalu bertemu. sekali lagi…selamat hari raya waisak untuk yang merayakan….

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KUNJUNGI!30 APRIL - 21 MEI 2021

Sedang berlangsung Pameran Permainan Keluarga oleh siswa-siswi Sekolah Rumah Citta. Pameran (secara daring) digelar dalam rangka mengenang perjuangan Ibu Kartini, sekaligus belajar lagi tentang nilai kesetaraan dan adil gender.