Duh, kok sering nangis ya…

Dimuat di Harian Jogja

Herlita Jayadianti

Menangis boleh –boleh saja. Menangis merupakan salah salah satu bentuk ekspresi atau luapan perasaan. Asalkan sesuai dengan sebabnya, maka menangis adalah sesuatu hal yang normal dan wajar misalnya anak nangis karena sakit. Jangankan anak, kitapun sebagai orang dewasa ketika menghadapi suatu masalah , kecewa, marah, sakit kadang juga mengungkapkan perasaan dengan menangis bukan ? Nah yang kadang jadi membuat orangtua kesal adalah ketika anak jadi sering nangis tanpa sebab yang wajar, seperti: kesenggol sedikit nangis, ditinggal sebentar nangis, lihat kucing nangis, dapat tugas dari sekolah – disuruh nyanyi misalnya nangis juga, ketemu teman nangis, anak yang sering menangis ini lalu sering disebut ”anak yang cengeng”.

Lalu kenapa anak menjadi cengeng ?

1. Tidak bisa mengungkapkan perasaan, Biasanya anak menangis karena anak tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaannya dengan bicara.

2. Mencari perhatian, Ketika anak menangis, biasanya orang-orang yang ada disekitarnya secara otomatis akan memberi perhatian, lalu tanya ”adik kenapa nangis ?”, nah perhatian seperti ini sebenarnya yang dicari anak.

3. Terlalu dimanjakan, anak yang semua keinginannya selalu tersedia dan dituruti, biasanya lalu menggunakan rengekan dan tangisan sebagai satu2nya cara untuk memperoleh apapun yang menjadi keinginannya.

Apa yang harus dilakukan orangtua ketika menghadapi anak yang suka menangis atau cengeng ?

1.Tidak menggunakan kekerasan, Karena dengan mencubit atau memukul bukan efek jera yang diperoleh anak melainkan pelajaran bahwa masalah bisa diselesaikan dengan kekerasan.

2.Ajari anak mengungkapkan perasaan dengan positif, Latih kerampilan anak dalam berbicara, sehingga pada akhirnya anak bisa mengungkapkan apa yang dirasakan dengan lebih baik. Misalnya Adik sedih? Kenapa ? mau cerita sama Ibu ?

3. Ajak anak bicara atau Diskusi, saat tangisnya reda ajak anak untuk cerita tentang perasaannya, ungkapkan juga apa yang menjadi keinginan kita. Misalnya ” kalau adik mau sesuatu, harus bilang ya, tidak dengan cara menangis.”atau ” Adik maunya apa?, ngomong dong sama Ayah, kalau nangis bagaimana Ayah bisa tahu ”

5. Ajari anak untuk menahan keinginan, Anak harus tahu bahwa tidak semua keinginannya bisa terpenuhi. Orangtua juga sebaiknya berterus terang kenapa tidak bisa memenuhi keinginan anak, misalnya ” Ibu tidak mengijinkan adik beli coklat karena adik sedang batuk, besok kalau sudah sembuh Ibu akan belikan.”

6. Abaikan, Kadang mengabaikan anak yang sedang nangis juga penting. Dari sini anak akan belajar bahwa dengan cara menangis dia tidak memperoleh apa-apa. Nanti ketika tangisnya sudah reda baru kita datangi dan tanya ”adik mau apa ?”.

7. Alihkan perhatian, Bujuk anak dengan melakukan kegiatan lain seperti membaca buku, lihat tanaman dikebun atau main dihalaman. Membujuk juga dengan cara yang proporsional dan tidak berlebihan ya.

8. Tidak melabel, karena nanti anak jadi semakin malas untuk merubah perilakunya. ”ngapain berubah jadi tidak cengeng, toh sudah dicap anak cengeng kok”.

Semoga bermanfaat, dan harapan saya tips ini bisa segera dipraktekkan oleh orangtua manapun yang memiliki kasus yang sama. karena kalau terlambat bisa saja dikemudian hari anak tumbuh jadi pribadi yang kurang tangguh, kurang percaya diri, tidak matang, tak mandiri, dan selalu merasa cemas nantinya. Dan saya yakin tidak ada satupun orangtua yang ingin anaknya seperti itu tentunya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KUNJUNGI!30 APRIL - 21 MEI 2021

Sedang berlangsung Pameran Permainan Keluarga oleh siswa-siswi Sekolah Rumah Citta. Pameran (secara daring) digelar dalam rangka mengenang perjuangan Ibu Kartini, sekaligus belajar lagi tentang nilai kesetaraan dan adil gender.