Mengenalkan Perayaan Natal Kepada Teman-teman Kecil ala ECCD-RC

Hari Senin, tanggal 13 Januari yang lalu ECCD-RC mengenalkan Perayaan hari Natal di Gereja Santo Antonius Kotabaru kepada teman-teman kecil Labschool Rumah Citta. Kira-kira pukul 09.00 pagi, teman-teman memulai circle awal di halaman Gereja dipimpin oleh Mbak Vika. Setelah itu mereka duduk makan bekal bersama-sama di halaman  gereja yang berkanopi. Mereka bersama-sama menikmati ubi bakar yang menjadi bekal sekolah hari itu. Kanapa Ubi Bakar? Karena Natal kali ini dirayakan dengan nuansa budaya Papua. Beberapa orang dewasa juga menggunakan rumbai-rumbai yang terbuat dari kantong plastik atau koran sebagai rok. Rumbai-rumbai yang lain ditawarkan kepada teman-teman kecil yang mau mencobanya.


Kegiatan kali ini kami mengundang Kak  Cory, seorang teman yang tinggal di Papua untuk bercerita tentang perayaan natal yang biasa dia alami di Papua. Pada saat memulai perkenalan Kak Cory bercerita, kalau dia sebenarnya berasal dari Flores, pernah juga tinggal di Ambon, dan terakhir tinggal di Papua. Di Papua, Kak Cory pernah  tinggal di Bilogai (Papua daerah Pegunungan Tengah) dan sekarang tinggal di Nabire (Papua daerah Pesisir/Pantai). Karena itu kak Cory bisa bercerita tentang pakaian adat dari papua daerah pegunungan dan papua daerah pesisir. Rok berbentuk rumbai-rumbai yang dikenakan taman-teman mirip dengan pakaian adat dari Papua daerah pegunungan. Bedanya, kalau pakaian adat papua yang asli, rumbai-rumbainya terbuat dari kulit kayu, dan biasa disebut Moge. Saat kegiatan kemarin, Mbak Vika sebagai pemimpin circle memakai pakaian adat Papua yang asli Yang terdiri atas: moge ( baju rajutan dan rok rumbai-rumbai yang dari kulit kayu) dan noken (tas asli papua). Mbak Vika memakai dua noken. Noken yang pertama berukuran besar dan dipakai di kepala, mirip kerudung. Mama-mama dari Papua biasa memakai Noken ini untuk wadah macam-macam benda, hewan peliharaan, bahkan juga untuk menggendong anak. Selain noken besar, Mbak Vika juga memakai noken kecil yang terbuat dari kulit anggrek hutan.

Selain Mbak Vika, ada dua teman dewasa lain yan juga menggunakan pakaian adat Papua. Mereka adalah Mbak Yuni dan Kak Cory. Mbak Yuni dan Kak Cory memakai pakaian adat Papua dari daerah pesisir/pantai. Pakaian adat Papua daerah pesisir terbuat dari kain, bentuknya mirip baju dan rok. Selain itu mbak Yuni dan Kak Cory juga memakai mahkota yang dihiasi dengan bulu binatang dan cangkang kerang. Cangkang kerang memang menjadi barang berharga bagi orang Papua daerah pesisir. Jaman dulu, cangkang kerang biasa digunakan sebagai alat pembayaran, yang dikenal dengan sebutan mege.

Selain bercerita tentang pakaiaian adatnya, Kak Cory juga bercerita tentang kebiasaan perayaan Natal di Papua. Baik itu di daerah pegunungan, maupun daerah pesisir. Malam menjelang Natal, biasanya teman-teman di Papua melakukan ibadah Natal di gereja bersama-sama. Teman-teman yang berada di daerah pegunungan akan datang ke gereja memakai baju adat. Sementara teman-teman yang tinggal di daerah pantai biasanya sudah mengenakan pakaian modern. Paginya, biasanya teman-teman yang merayakan Natal di Papua akan memulainya dengan ibadah pagi di Gereja. Setelah itu, mereka berkumpul bersama-sama untuk memestakan Natal. Yang membedakan perayaan Natal Pegunungan dan Pesisir adalah pada hidangan yang dinikmati. Mereka yang tinggal di pegunungan biasanya mengadakan upacara bakar batu. Upacara bakar batu artinya, mereka bersama-sama memasak sayur, ubi, dan daging dengan batu yang panas. Karena itulah bekal sekolah yang disediakan hari itu adalah ubi bakar. Sementara teman-teman yang tinggal di pesisir, hidangan yang disediakan saat Perayaan Natal adalah papeda dan ikan kuah kuning.

Kak Cory juga bercerita, setelah makan bersama, Perayaaan Natal di Papua biasanya diakhiri dengan menari bersama-bersama. Hari itu, teman-teman juga mencoba menarikan salah satu tarian yang biasa mereka tarikan, yaitu Tari Yospan. Inilah cara kami mengenalkan keberagaman agama kepada teman-teman kecil.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KUNJUNGI!30 APRIL - 21 MEI 2021

Sedang berlangsung Pameran Permainan Keluarga oleh siswa-siswi Sekolah Rumah Citta. Pameran (secara daring) digelar dalam rangka mengenang perjuangan Ibu Kartini, sekaligus belajar lagi tentang nilai kesetaraan dan adil gender.